
Jamkesnews – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengajak siswa Sekolah Rakyat membiasakan pola hidup sehat sejak dini. Menurutnya, merawat gigi, mengonsumsi makanan bergizi, dan rutin berolahraga sangat penting bagi kesehatan anak. Selain menjaga kebugaran, kebiasaan tersebut dapat membantu siswa lebih aktif dan berkonsentrasi ketika belajar.
Pesan itu disampaikan Budi ketika meninjau Sekolah Rakyat Rintisan 4 Kabupaten Bogor pada Selasa, 11 Agustus 2026. Dalam kunjungannya, ia didampingi Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul serta Kepala Badan Narkotika Nasional Komjen Pol. Suyudi Ario Seto.
Sekolah tersebut berada di lingkungan Unit Deteksi K-9 BNN, Kabupaten Bogor. Selain berbicara dengan para siswa, ketiga pejabat tersebut meninjau asrama, musala, ruang kelas, dan sejumlah fasilitas pendukung lainnya.
BPJS Kesehatan Jatim Mendukung Pola Hidup Sehat Siswa
Membentuk pola hidup sehat siswa membutuhkan dukungan sekolah, keluarga, dan pemerintah. Dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat Jawa Timur, BPJS Kesehatan Jatim terus memperkuat pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN pada 2026.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama BPJS Kesehatan dan pemerintah kabupaten atau kota berupaya menjaga keaktifan peserta JKN. Selain itu, pemutakhiran data juga terus dilakukan agar masyarakat yang memenuhi persyaratan dapat memperoleh perlindungan kesehatan sesuai ketentuan.
Berdasarkan keterangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada Maret 2026, tingkat keaktifan peserta JKN di Jatim meningkat. Angkanya berubah dari 97,58 persen pada 2025 menjadi sekitar 98,7 persen pada 2026. Dengan demikian, semakin banyak warga Jawa Timur yang memiliki status kepesertaan aktif.
Perlindungan tersebut juga penting bagi anak-anak dan pelajar. Ketika mengalami gangguan kesehatan, peserta JKN dapat mendatangi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama tempat mereka terdaftar. Fasilitas tersebut dapat berupa puskesmas, klinik pratama, atau dokter perorangan.
Apabila membutuhkan penanganan lebih lanjut, pasien dapat memperoleh rujukan berdasarkan hasil pemeriksaan dan indikasi medis. Namun, pada kondisi gawat darurat, peserta dapat langsung mendatangi fasilitas kesehatan terdekat sesuai ketentuan yang berlaku.
Meskipun Program JKN memberikan perlindungan kesehatan, pencegahan penyakit tetap harus diprioritaskan. Oleh karena itu, siswa di Jawa Timur perlu membiasakan diri menjaga kebersihan, merawat gigi, makan secara teratur, dan aktif bergerak.
Orang tua juga perlu memastikan status kepesertaan JKN anggota keluarganya tetap aktif. Selanjutnya, informasi peserta, lokasi fasilitas kesehatan, perubahan FKTP, dan nomor antrean dapat diperiksa melalui aplikasi Mobile JKN.
Menkes Menyoroti Masalah Gigi pada Anak
Kesehatan gigi menjadi salah satu perhatian utama Menkes Budi dalam kunjungan tersebut. Menurutnya, keluhan pada gigi termasuk masalah kesehatan yang banyak ditemukan. Oleh sebab itu, anak perlu belajar menyikat gigi menggunakan cara yang tepat.
Pesan tersebut sesuai dengan hasil pemeriksaan awal terhadap siswa Sekolah Rakyat. Gus Ipul mengungkapkan bahwa sekitar 49 persen siswa mengalami masalah gigi ketika pertama kali mengikuti program.
Selain keluhan gigi, pemeriksaan juga menemukan siswa yang mengalami anemia dan penumpukan kotoran telinga. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemeriksaan kesehatan awal dibutuhkan untuk mengetahui kondisi setiap anak.
Setelah hasil pemeriksaan diketahui, sekolah dan tenaga kesehatan dapat menentukan pendampingan yang diperlukan. Dengan begitu, keluhan siswa dapat ditangani lebih awal sebelum mengganggu kegiatan belajar.
Masalah gigi memang tidak boleh dianggap ringan. Menjaga kesehatan gigi sejak usia sekolah penting karena gigi berlubang dapat menimbulkan nyeri, mengganggu waktu tidur, dan membuat anak kesulitan mengunyah. Akibatnya, siswa mungkin kehilangan konsentrasi ketika mengikuti pelajaran.
Cara Siswa Menjaga Kesehatan Gigi
Menyikat gigi perlu dilakukan secara rutin menggunakan teknik yang benar. Anak sebaiknya membersihkan seluruh permukaan gigi secara perlahan agar sisa makanan dan plak dapat berkurang.
Selain memperhatikan tekniknya, siswa perlu membiasakan diri menyikat gigi setelah sarapan dan sebelum tidur. Kebiasaan tersebut dapat membantu menjaga kebersihan gigi dan mulut sepanjang hari.
Kemudian, anak dianjurkan menggunakan pasta gigi berfluorida sesuai usia. Fluorida dapat membantu memperkuat lapisan gigi. Namun, pemakaiannya tetap perlu mengikuti petunjuk pada kemasan atau saran tenaga kesehatan.
Konsumsi makanan dan minuman manis juga perlu dibatasi. Apabila terlalu sering dikonsumsi, gula dapat meningkatkan risiko kerusakan gigi. Terlebih lagi, risikonya dapat bertambah jika anak jarang menyikat gigi.
Selanjutnya, siswa perlu menjalani pemeriksaan apabila mengalami sakit gigi, gusi bengkak, perdarahan berulang, atau kesulitan mengunyah. Penanganan lebih awal dapat mencegah masalah berkembang menjadi lebih berat.
Makanan Bergizi Mendukung Kesehatan Siswa
Selain membahas kesehatan gigi, Menkes Budi mengingatkan siswa agar menjaga pola makan. Anak membutuhkan zat gizi yang cukup untuk tumbuh, belajar, serta menjalani aktivitas sehari-hari.
Namun, makanan tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan. Pola makan yang didominasi gula, garam, dan lemak dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan. Selanjutnya, obesitas dapat berkaitan dengan tekanan darah tinggi dan masalah metabolisme.
Oleh karena itu, siswa perlu mengonsumsi makanan dengan kandungan gizi yang seimbang. Menu harian dapat terdiri dari sumber karbohidrat, protein, sayuran, buah-buahan, dan lemak sehat.
Nasi, kentang, jagung, dan ubi dapat, dan ubi dapat menjadi sumber energi. Sementara itu, protein dapat diperoleh dari ikan, telur, ayam, daging, tahu, dan tempe. Sayuran dan buah juga dibutuhkan karena mengandung vitamin, mineral, serta serat.
Di samping itu, siswa harus minum air putih dalam jumlah cukup. Sebaliknya, minuman berpemanis dan makanan cepat saji sebaiknya tidak dikonsumsi terlalu sering.
Sarapan juga menjadi bagian penting dalam pola hidup sehat siswa. Dengan sarapan yang cukup, anak memperoleh energi untuk memulai kegiatan. Akibatnya, mereka dapat lebih siap mengikuti pelajaran pada pagi hari.
Olahraga Perlu Menjadi Kebiasaan Siswa
Aktivitas fisik menjadi pesan penting berikutnya yang disampaikan Menkes Budi. Anak-anak tidak seharusnya menghabiskan seluruh waktu luang dengan duduk atau menggunakan perangkat digital.
Sebaliknya, siswa perlu melakukan aktivitas fisik secara rutin. Mereka dapat berjalan kaki, berlari, bersepeda, melakukan senam, atau mengikuti permainan kelompok.
Olahraga memberikan banyak manfaat bagi tumbuh kembang anak. Selain menjaga berat badan, aktivitas fisik dapat membantu memperkuat tulang, otot, jantung, serta daya tahan tubuh.
Tidak hanya itu, olahraga juga dapat mendukung kesehatan mental. Ketika bergerak aktif, anak dapat merasa lebih segar dan tidak mudah bosan. Permainan kelompok bahkan dapat melatih komunikasi dan kerja sama.
Walaupun demikian, aktivitas fisik harus disesuaikan dengan usia dan kondisi kesehatan siswa. Anak perlu melakukan pemanasan serta menggunakan perlengkapan yang aman. Jika merasa nyeri atau sangat lelah, mereka sebaiknya beristirahat.
Kondisi Siswa Mulai Mengalami Perubahan
Menurut Gus Ipul, kondisi siswa mulai mengalami perubahan setelah mendapatkan pembinaan di Sekolah Rakyat. Pada awal mengikuti program, banyak anak terlihat mudah mengantuk. Namun, setelah menjalani rutinitas yang lebih teratur, mereka tampak semakin segar dan aktif.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa lingkungan yang sehat dapat membantuanak membangun kebiasaan positif. Jadwal tidur, waktu makan, aktivitas belajar, dan olahraga perlu diatur secara seimbang.
Meskipun demikian, perubahan tidak terjadi dalam waktu singkat. Siswa tetap membutuhkan pendampingan dari guru, pengasuh, tenaga kesehatan, dan keluarga. Dengan pendampingan yang konsisten, kebiasaan sehat dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Sekolah Rakyat Membuka Akses Pendidikan
Sekolah Rakyat Rintisan 4 Kabupaten Bogor merupakan bagian dari upaya pemerintah membuka akses pendidikan bagi anak yang sebelumnya tidak bersekolah. Sebagian dari mereka pernah beraktivitas di jalan maupun pasar di Jakarta dan wilayah sekitarnya.
Gus Ipul menyebutkan bahwa terdapat sekitar 400 anak yang ditemukan tidak bersekolah. Namun, kurang lebih 100 anak belum dapat langsung mengikuti pembelajaran karena masih menjalani pemulihan di sentra Kementerian Sosial.
Anak-anak tersebut harus mengikuti proses matrikulasi terlebih dahulu. Tahapan ini diperlukan agar mereka lebih siap secara fisik, psikologis, sosial, dan akademik.
Setelah dinilai siap, mereka dapat mengikuti kegiatan pembelajaran secara penuh. Dengan pendekatan bertahap, siswa diharapkan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan sekolah.
Program tersebut juga melibatkan kerja sama lintas lembaga. Dalam penyelenggaraan Sekolah Rakyat di Kabupaten Bogor, BNN menyediakan sebagian tempat untuk mendukung kegiatan sekolah rintisan.
Pendidikan dan Kesehatan Harus Berjalan Bersama
Dalam kunjungan tersebut, Mensos, Menkes, dan Kepala BNN turut menyaksikan simulasi pelajaran matematika. Kegiatan pembelajaran menggunakan papan tulis digital dengan pengantar bahasa Inggris.
Fasilitas pendidikan modern dapat membantu meningkatkan kualitas pembelajaran. Namun, kesehatan siswa juga harus diperhatikan. Anak yang mengalami sakit gigi, anemia, atau gangguan kesehatan lainnya dapat menghadapi kesulitan ketika belajar.
Oleh sebab itu, pemeriksaan kesehatan perlu dilakukan secara berkala. Selain itu, sekolah harus memberikan edukasi mengenai kebersihan diri, makanan bergizi, waktu istirahat, dan aktivitas fisik.
Pada akhirnya, pola hidup sehat siswa menjadi fondasi penting untuk membangun generasi berkualitas. Dengan merawat gigi, mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, dan memperoleh perlindungan JKN, anak-anak diharapkan dapat tumbuh sehat serta mengikuti pendidikan secara optimal.