
Jamkesnews – Serangan asam urat dapat menyebabkan sendi terasa nyeri, panas, bengkak, dan sulit digerakkan. Bagi masyarakat Jawa Timur, pemeriksaan serta pengobatan penyakit ini dapat dimulai melalui fasilitas kesehatan tingkat pertama yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan Jatim, sesuai prosedur dan indikasi medis dalam Program JKN. Namun, pasien sebaiknya tidak memilih obat sendiri karena setiap jenis obat memiliki fungsi, aturan pakai, dan risiko efek samping yang berbeda.
Asam urat atau gout merupakan peradangan sendi akibat terbentuknya kristal urat. Kristal tersebut dapat menumpuk ketika kadar asam urat dalam darah terlalu tinggi dalam waktu lama. Meskipun demikian, hasil pemeriksaan asam urat yang tinggi belum tentu berarti seseorang pasti mengalami gout.
Tubuh menghasilkan asam urat saat memecah purin. Senyawa ini terdapat secara alami di dalam tubuh dan ditemukan pada beberapa makanan, seperti jeroan, daging merah, makanan laut, serta minuman beralkohol. Dalam kondisi normal, asam urat akan larut dalam darah, disaring oleh ginjal, kemudian dikeluarkan melalui urine.
Namun, apabila produksinya terlalu banyak atau ginjal tidak mampu membuangnya secara optimal, kadar asam urat dapat meningkat. Akibatnya, kristal berbentuk seperti jarum bisa terbentuk di sekitar sendi dan memicu peradangan.
Serangan gout paling sering mengenai pangkal ibu jari kaki. Walaupun demikian, keluhan juga dapat muncul pada pergelangan kaki, lutut, jari tangan, pergelangan tangan, atau siku. Nyeri biasanya datang secara mendadak dan dapat terasa sangat berat, terutama pada malam hari.
Lantas, obat apa saja yang biasa digunakan untuk membantu menangani asam urat? Berikut penjelasannya.
1. Parasetamol
Parasetamol merupakan obat pereda nyeri yang relatif mudah ditemukan di apotek. Obat ini dapat membantu mengurangi rasa sakit ringan pada sebagian pasien. Namun, parasetamol tidak memiliki efek antiradang sekuat obat antiinflamasi nonsteroid.
Oleh karena itu, parasetamol bukan obat utama untuk menghentikan peradangan akibat serangan gout. Obat ini juga tidak menurunkan kadar asam urat dalam darah. Penggunaannya hanya berfungsi untuk membantu meredakan nyeri.
Walaupun dapat dibeli tanpa resep, parasetamol tetap harus digunakan sesuai aturan pada kemasan atau anjuran tenaga kesehatan. Mengonsumsi obat ini melebihi dosis yang dianjurkan berisiko menyebabkan kerusakan hati. Selain itu, pasien yang memiliki gangguan hati atau sering mengonsumsi alkohol sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.
2. Obat Antiinflamasi Nonsteroid
Obat antiinflamasi nonsteroid atau OAINS dapat digunakan untuk meredakan nyeri sekaligus peradangan saat gout kambuh. Beberapa contohnya adalah ibuprofen, naproxen, diklofenak, dan indometasin. Akan tetapi, pemilihan obat harus mempertimbangkan kondisi kesehatan masing-masing pasien.
OAINS dapat menyebabkan iritasi lambung, perdarahan saluran pencernaan, retensi cairan, peningkatan tekanan darah, serta gangguan ginjal. Karena itu, obat ini tidak selalu aman untuk pasien lanjut usia, penderita penyakit ginjal, riwayat tukak lambung, penyakit jantung, atau pasien yang sedang menggunakan obat pengencer darah.
Selain itu, beberapa jenis OAINS termasuk obat keras yang hanya boleh digunakan dengan resep dokter. Dengan demikian, masyarakat tidak disarankan membeli dan menggabungkan beberapa obat antinyeri tanpa petunjuk tenaga kesehatan.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa OAINS, seperti ibuprofen, dapat digunakan untuk mengurangi nyeri dan peradangan pada gout. Namun, pemeriksaan tetap diperlukan agar obat sesuai dengan kondisi pasien. Informasi tersebut dapat dibaca melalui halaman resmi Ayo Sehat Kementerian Kesehatan.
3. Colchicine
Colchicine adalah obat yang digunakan untuk mengendalikan peradangan akibat kristal asam urat. Obat ini bekerja paling efektif apabila diberikan pada tahap awal serangan sesuai arahan dokter. Selain untuk menangani serangan akut, colchicine dalam dosis tertentu terkadang diberikan untuk mencegah kekambuhan ketika pasien mulai menjalani terapi penurun asam urat.
Meskipun demikian, colchicine bukan obat antinyeri biasa. Obat ini juga tidak bekerja dengan menurunkan kadar asam urat secara langsung. Karena rentang keamanan dosisnya cukup sempit, penggunaannya harus mengikuti resep dan pengawasan dokter.
Efek samping yang sering muncul antara lain mual, muntah, sakit perut, dan diare. Risiko efek samping berat dapat meningkat pada pasien dengan gangguan ginjal atau hati. Interaksi juga dapat terjadi apabila colchicine digunakan bersama obat tertentu. Oleh sebab itu, pasien perlu memberi tahu dokter mengenai semua obat dan suplemen yang sedang dikonsumsi.
Jangan menambah dosis colchicine ketika nyeri belum membaik. Penggunaan berlebihan dapat menimbulkan keracunan serius dan membutuhkan penanganan medis segera.
4. Allopurinol
Allopurinol merupakan obat untuk menurunkan produksi asam urat di dalam tubuh. Berbeda dari OAINS dan colchicine, obat ini digunakan sebagai terapi pengendali jangka panjang, bukan sebagai pereda nyeri yang bekerja seketika.
Dokter biasanya mempertimbangkan allopurinol pada pasien yang mengalami serangan gout berulang, memiliki tofi, batu ginjal tertentu, kerusakan sendi akibat gout, atau kondisi lain yang membutuhkan pengendalian kadar asam urat. Dosis awal umumnya ditentukan berdasarkan kondisi pasien, termasuk fungsi ginjal. Selanjutnya, dosis dapat disesuaikan secara bertahap berdasarkan hasil evaluasi.
Pada awal terapi, serangan gout terkadang justru dapat muncul kembali karena perubahan kadar urat. Oleh karena itu, dokter mungkin memberikan obat pencegah peradangan selama periode tertentu. Pasien juga tidak boleh menghentikan allopurinol secara mendadak hanya karena serangan terjadi, kecuali dokter memberikan instruksi berbeda.
Efek samping yang dapat muncul meliputi mual, gangguan pencernaan, atau ruam. Apabila timbul ruam, kulit melepuh, demam, luka pada mulut, mata merah, atau pembengkakan wajah, hentikan penggunaan dan segera cari pertolongan medis. Gejala tersebut dapat menandakan reaksi obat berat.
5. Febuxostat
Febuxostat juga bekerja dengan menghambat pembentukan asam urat. Obat ini dapat menjadi pilihan pada kondisi tertentu, misalnya ketika allopurinol tidak dapat digunakan, tidak ditoleransi, atau belum memberikan hasil sesuai target berdasarkan evaluasi dokter.
Sama seperti allopurinol, febuxostat bukan obat untuk menghilangkan nyeri secara instan ketika sendi sedang meradang. Tujuan utama penggunaannya adalah mengendalikan kadar asam urat dalam jangka panjang sehingga risiko serangan berulang dan pembentukan tofi dapat berkurang.
Sebelum meresepkan obat ini, dokter akan mempertimbangkan riwayat penyakit, obat lain yang sedang digunakan, kondisi hati, ginjal, dan risiko kardiovaskular pasien. Pemeriksaan laboratorium mungkin dilakukan secara berkala untuk menilai efektivitas serta keamanan pengobatan.
Efek sampingnya dapat berupa mual, nyeri sendi, ruam, atau perubahan hasil pemeriksaan fungsi hati. Karena termasuk obat keras, febuxostat hanya boleh dikonsumsi dengan resep dokter.
6. Probenecid
Probenecid merupakan obat urikosurik. Artinya, obat ini membantu ginjal membuang lebih banyak asam urat melalui urine. Dengan begitu, kadar asam urat dalam darah dapat menurun secara bertahap.
Namun, probenecid tidak cocok untuk semua pasien. Dokter perlu mempertimbangkan fungsi ginjal dan riwayat batu saluran kemih sebelum memberikan obat ini. Pasien biasanya juga perlu memenuhi kebutuhan cairan sesuaianjuran dokter untuk membantu mengurangi risiko terbentuknya batu.
Beberapa efek samping yang mungkin muncul adalah mual, sakit kepala, kehilangan nafsu makan, dan gangguan pencernaan. Selain itu, probenecid dapat berinteraksi dengan obat lain. Oleh sebab itu, penggunaannya harus berada di bawah pengawasan dokter.
Jangan Salah Membedakan Obat Serangan dan Obat Pengendali
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap seluruh obat asam urat memiliki fungsi yang sama. Padahal, pengobatan gout secara umum memiliki dua tujuan berbeda.
Pertama, obat seperti OAINS, colchicine, atau kortikosteroid digunakan untuk mengendalikan nyeri dan peradangan saat serangan terjadi. Kedua, obat seperti allopurinol, febuxostat, atau probenecid digunakan untuk mengendalikan kadar asam urat dalam jangka panjang.
Sementara itu, kortikosteroid dapat dipertimbangkan oleh dokter apabila OAINS atau colchicine tidak sesuai bagi pasien. Obat tersebut dapat diberikan dalam bentuk tablet atau melalui tindakan medis tertentu. Namun, karena berpotensi memengaruhi gula darah, tekanan darah, dan daya tahan tubuh, penggunaannya memerlukan evaluasi dokter.
Dengan demikian, tidak ada satu obat yang dapat disebut sebagai “obat asam urat paling paten” untuk semua orang. Pilihan terapi bergantung pada jenis keluhan, frekuensi serangan, kadar asam urat, fungsi ginjal, penyakit penyerta, serta obat lain yang digunakan.
Pelayanan Asam Urat bagi Peserta BPJS Kesehatan Jatim
Peserta JKN di Surabaya, Malang, Sidoarjo, Kediri, Jember, Madiun, maupun wilayah lain di Jawa Timur dapat memulai pemeriksaan di fasilitas kesehatan tingkat pertama yang terdaftar. Fasilitas tersebut dapat berupa puskesmas, klinik pratama, atau dokter praktik perorangan.
Dokter akan melakukan wawancara medis dan pemeriksaan fisik. Apabila dibutuhkan sesuai indikasi, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan penunjang untuk membantu memastikan diagnosis. Hal ini penting karena nyeri dan pembengkakan sendi tidak selalu disebabkan oleh gout. Infeksi sendi, cedera, osteoartritis, serta gangguan peradangan lain bisa menimbulkan keluhan serupa.
Jika kondisi pasien membutuhkan penanganan dokter spesialis atau fasilitas yang lebih lengkap, FKTP dapat memberikan rujukan ke fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan sesuai ketentuan Program JKN. Peserta juga dapat memanfaatkan Mobile JKN untuk mengambil nomor antrean FKTP maupun rumah sakit yang telah terintegrasi. Panduannya tersedia pada situs resmi BPJS Kesehatan untuk antrean FKTP dan antrean fasilitas rujukan.
Perlu dipahami bahwa penjaminan pemeriksaan, obat, maupun tindakan bergantung pada indikasi medis, formularium, prosedur rujukan, status kepesertaan, dan ketentuan JKN yang berlaku. Karena itu, pasien sebaiknya mengikuti alur pelayanan dan membawa identitas peserta ketika berobat.
Kapan Harus Segera Memeriksakan Diri?
Jangan menunda pemeriksaan apabila nyeri sendi muncul untuk pertama kali dan penyebabnya belum diketahui. Segera cari pertolongan medis jika keluhan disertai demam, menggigil, luka di sekitar sendi, tubuh terasa sangat lemah, atau sendi tidak dapat digerakkan.
Pemeriksaan juga diperlukan ketika:
- Nyeri terasa sangat berat atau terus memburuk.
- Obat antinyeri tidak membantu meredakan keluhan.
- Serangan terjadi berulang kali.
- Muncul benjolan keras atau tofi di sekitar sendi.
- Terdapat riwayat batu ginjal atau gangguan ginjal.
- Muncul ruam setelah mengonsumsi allopurinol.
- Pasien sedang hamil, berusia lanjut, atau memiliki banyak penyakit penyerta.
Sendi yang merah, panas, bengkak, dan disertai demam dapat menandakan infeksi sendi. Kondisi ini memerlukan pemeriksaan segera dan tidak boleh hanya ditangani dengan obat asam urat di rumah.
Cara Membantu Mencegah Asam Urat Kambuh
Selain mengonsumsi obat sesuai resep, perubahan kebiasaan sehari-hari dapat membantu mengurangi risiko kekambuhan. Pertama, minumlah air putih dalam jumlah yang cukup, kecuali dokter membatasi asupan cairan karena kondisi tertentu. Selanjutnya, batasi jeroan, daging merah berlebihan, beberapa jenis makanan laut, minuman tinggi gula, serta alkohol.
Kemudian, pertahankan berat badan secara bertahap melalui pola makan seimbang dan aktivitas fisik teratur. Hindari diet ekstrem karena penurunan berat badan terlalu cepat justru dapat meningkatkan kadar asam urat. Selain itu, lakukan kontrol berkala agar dokter dapat memantau kadar urat dan menyesuaikan terapi.
Pada akhirnya, obat akan bekerja lebih efektif apabila dikonsumsi secara teratur dan disertai gaya hidup sehat. Oleh karena itu, jangan menghentikan, mengganti, atau menambah dosis obat tanpa berkonsultasi dengan dokter.