
Seiring bertambahnya usia, tubuh mengalami berbagai perubahan yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Salah satu perubahan yang perlu diwaspadai adalah berkurangnya massa dan kekuatan otot. Melalui edukasi kesehatan dan kemudahan akses pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), BPJS Kesehatan Jatim turut mendukung masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan sejak usia produktif hingga lanjut usia. Perhatian tersebut penting karena penurunan fungsi otot dapat berkembang menjadi kondisi yang disebut sarkopenia.
Selama ini, masalah kesehatan lansia lebih sering dikaitkan dengan osteoporosis atau pengeroposan tulang. Padahal, kesehatan otot juga berperan besar dalam menentukan kemampuan seseorang untuk tetap bergerak, menjaga keseimbangan, serta hidup secara mandiri. Apabila tidak dicegah sejak dini, sarkopenia dapat meningkatkan risiko jatuh, patah tulang, keterbatasan gerak, hingga ketergantungan terhadap bantuan orang lain.
Apa Itu Sarkopenia?
Sarkopenia adalah kondisi yang ditandai dengan menurunnya massa, kekuatan, dan kemampuan kerja otot secara progresif. Kondisi ini paling sering terjadi pada kelompok lanjut usia. Namun, orang yang lebih muda juga dapat mengalaminya, terutama jika jarang bergerak, mengalami kekurangan gizi, atau menderita penyakit kronis tertentu.
Proses penyusutan massa otot sebenarnya dapat mulai berlangsung sejak usia dewasa. Selanjutnya, penurunan tersebut cenderung semakin cepat setelah seseorang memasuki usia lanjut. Meskipun demikian, kecepatan penyusutan otot pada setiap orang tidak sama. Pola makan, aktivitas fisik, penyakit penyerta, kualitas tidur, serta kebiasaan hidup turut memengaruhi kondisi otot.
Sarkopenia bukan sekadar perubahan bentuk tubuh menjadi lebih kecil atau kurus. Dalam beberapa kasus, seseorang tetap terlihat memiliki berat badan berlebih, tetapi sebenarnya mengalami penurunan massa otot. Oleh sebab itu, berat badan saja tidak cukup untuk menggambarkan kesehatan dan kekuatan otot seseorang.
Gejala Sarkopenia yang Perlu Diwaspadai
Gejala sarkopenia sering berkembang secara perlahan. Akibatnya, banyak orang menganggap keluhan tersebut sebagai bagian biasa dari proses penuaan. Padahal, penurunan kemampuan fisik yang terus berlangsung perlu mendapatkan perhatian.
Beberapa tanda yang dapat mengarah pada sarkopenia antara lain:
- Tubuh lebih cepat lelah saat beraktivitas.
- Kesulitan bangkit dari kursi tanpa berpegangan.
- Kecepatan berjalan menjadi lebih lambat.
- Kesulitan menaiki tangga atau membawa barang.
- Kekuatan genggaman tangan berkurang.
- Tubuh terasa tidak seimbang ketika berdiri atau berjalan.
- Frekuensi jatuh meningkat.
- Lingkar lengan atau betis tampak semakin mengecil.
- Aktivitas sehari-hari mulai memerlukan bantuan orang lain.
Apabila gejala tersebut muncul, terutama pada lansia, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan sebaiknya tidak ditunda. Dokter dapat melakukan penilaian melalui wawancara, pemeriksaan kekuatan otot, pengukuran kecepatan berjalan, serta pemeriksaan komposisi tubuh apabila diperlukan.
Penyebab dan Faktor Risiko Sarkopenia
Usia merupakan salah satu faktor utama terjadinya sarkopenia. Namun, proses penuaan bukan satu-satunya penyebab. Kurangnya aktivitas fisik juga berperan besar karena otot yang jarang digunakan akan kehilangan kekuatan secara bertahap.
Selain itu, asupan protein dan energi yang tidak mencukupi dapat menghambat pembentukan jaringan otot. Kondisi tersebut kerap terjadi pada lansia yang mengalami penurunan nafsu makan, gangguan mengunyah, kesulitan menelan, atau masalah pencernaan.
Penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, gangguan ginjal, penyakit paru, kanker, dan radang sendi juga dapat mempercepat hilangnya massa otot. Di samping itu, peradangan kronis, perubahan hormon, kekurangan vitamin D, kebiasaan merokok, serta konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan risikonya.
Perawatan dalam waktu lama atau tirah baring juga perlu diperhatikan. Ketika seseorang tidak bergerak selama beberapa hari atau minggu, kekuatan otot dapat menurun dengan cepat. Oleh karena itu, latihan mobilisasi yang aman sangat penting selama masa pemulihan sesuai arahan tenaga kesehatan.
Hubungan Sarkopenia dengan Sindrom Metabolik
Sarkopenia memiliki hubungan yang erat dengan sindrom metabolik. Sindrom metabolik merupakan sekumpulan gangguan kesehatan yang mencakup penumpukan lemak di perut, tekanan darah tinggi, kadar gula darah meningkat, serta gangguan kadar kolesterol atau trigliserida.
Otot rangka memiliki peran penting dalam penggunaan glukosa oleh tubuh. Setelah seseorang makan, sebagian glukosa dari darah akan digunakan dan disimpan oleh jaringan otot. Ketika massa otot berkurang, kemampuan tubuh dalam mengelola glukosa juga dapat menurun. Akibatnya, resistensi insulin dan risiko diabetes tipe 2 dapat meningkat.
Sebaliknya, gangguan metabolik juga dapat mempercepat kerusakan otot. Penumpukan lemak tubuh, terutama di sekitar perut, dapat memicu peradangan tingkat rendah dalam jangka panjang. Peradangan tersebut kemudian mengganggu pembentukan protein otot dan mempercepat penyusutannya.
Pada sebagian orang, sarkopenia terjadi bersamaan dengan obesitas. Kondisi ini dikenal sebagai sarcopenic obesity atau obesitas sarkopenik. Penderitanya memiliki lemak tubuh berlebih, tetapi massa dan fungsi ototnya rendah. Oleh karena itu, kondisi tersebut mungkin tidak terlihat hanya dengan melihat angka berat badan.
Dampak Sarkopenia terhadap Kualitas Hidup
Otot dibutuhkan hampir dalam setiap aktivitas, mulai dari berdiri, berjalan, mengangkat benda, hingga menjaga posisi tubuh. Karena itu, penurunan fungsi otot dapat memberikan dampak yang luas terhadap kehidupan lansia.
Seseorang dengan sarkopenia lebih mudah kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Selanjutnya, kejadian jatuh dapat menyebabkan cedera atau patah tulang. Jika cedera membuat pasien harus berbaring dalam waktu lama, massa otot akan semakin berkurang. Kondisi ini akhirnya membentuk lingkaran masalah yang sulit diputus.
Selain itu, keterbatasan gerak dapat mengurangi interaksi sosial. Lansia mungkin enggan keluar rumah karena takut jatuh atau cepat lelah. Dalam jangka panjang, keadaan tersebut dapat memengaruhi kesehatan mental, menurunkan rasa percaya diri, dan meningkatkan ketergantungan kepada keluarga.
Cara Mencegah dan Memperlambat Sarkopenia
Walaupun berkaitan dengan usia, sarkopenia bukan kondisi yang harus diterima begitu saja. Pencegahan dapat dilakukan dengan menggabungkan latihan fisik, pola makan bergizi, serta pengendalian penyakit kronis.
1. Melakukan latihan kekuatan
Latihan kekuatan merupakan salah satu langkah utama untuk mempertahankan massa otot. Lansia dapat melakukan latihan menggunakan resistance band, botol berisi air, beban ringan, atau berat tubuh sendiri.
Gerakan sederhana seperti berdiri dari kursi, mengangkat tumit, atau melakukan squat ringan dapat membantu melatih otot. Namun, latihan sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan tubuh. Bagi lansia yang memiliki gangguan keseimbangan atau penyakit tertentu, konsultasi dengan dokter atau fisioterapis perlu dilakukan terlebih dahulu.
2. Tetap aktif setiap hari
Selain latihan kekuatan, aktivitas aerobik ringan juga memberikan manfaat. Jalan kaki, bersepeda statis, berenang, dan senam lansia dapat membantu menjaga kebugaran jantung sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh.
Akan tetapi, aktivitas perlu dilakukan secara bertahap. Mulailah dari durasi yang pendek, kemudian tingkatkan sesuai kemampuan. Yang terpenting, aktivitas dilakukan secara konsisten dan tidak memaksakan tubuh.
3. Memenuhi kebutuhan protein
Protein diperlukan untuk memperbaiki dan membentuk jaringan otot. Sumber protein dapat diperoleh dari ikan, telur, ayam tanpa kulit, susu, tahu, tempe, kacang-kacangan, serta makananbergizi lainnya.
Kebutuhan setiap orang dapat berbeda berdasarkan berat badan, aktivitas, kondisi kesehatan, dan fungsi ginjal. Oleh sebab itu, lansia yang memiliki penyakit ginjal atau gangguan kesehatan tertentu sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu sebelum meningkatkan konsumsi protein.
4. Menjaga asupan vitamin dan mineral
Vitamin D berperan dalam mendukung fungsi otot dan kesehatan tulang. Selain itu, kalsium serta zat gizi lainnya juga dibutuhkan untuk mempertahankan kemampuan bergerak. Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi melalui pola makan beragam, paparan sinar matahari yang aman, atau suplemen apabila direkomendasikan dokter.
5. Mengendalikan penyakit penyerta
Diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan gangguan metabolik perlu dikendalikan dengan baik. Pemeriksaan berkala, konsumsi obat sesuai resep, serta penerapan gaya hidup sehat dapat membantu mencegah penurunan kondisi tubuh.
Selain itu, hindari merokok dan batasi konsumsi minuman beralkohol. Kedua kebiasaan tersebut dapat mengganggu kesehatan otot, tulang, jantung, dan pembuluh darah.
Akses Pemeriksaan melalui BPJS Kesehatan Jatim
Peserta JKN yang mengalami kelemahan otot, kesulitan berjalan, sering jatuh, atau penurunan kemampuan fisik dapat memulai pemeriksaan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) tempat peserta terdaftar. FKTP dapat berupa puskesmas, klinik pratama, atau dokter keluarga.
Dokter akan menilai keluhan dan kondisi kesehatan pasien. Apabila terdapat indikasi medis yang memerlukan pemeriksaan atau penanganan lanjutan, pasien dapat memperoleh rujukan ke Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) sesuai ketentuan program JKN.
Dalam kondisi gawat darurat, peserta dapat langsung mendatangi fasilitas kesehatan yang memiliki layanan kegawatdaruratan. Sementara itu, untuk memeriksa status kepesertaan, lokasi fasilitas kesehatan, antrean daring, atau informasi layanan lainnya, peserta dapat memanfaatkan aplikasi Mobile JKN maupun kanal resmi BPJS Kesehatan.
Perlu dipahami bahwa penjaminan pelayanan diberikan berdasarkan indikasi medis, prosedur, dan ketentuan JKN yang berlaku. Karena itu, peserta dianjurkan memastikan status kepesertaannya aktif serta mengikuti alur pelayanan yang telah ditetapkan.
Jaga Otot agar Tetap Mandiri di Usia Lanjut
Sarkopenia dapat berkembang tanpa disadari. Namun, kondisi tersebut dapat dicegah dan diperlambat melalui latihan kekuatan, aktivitas fisik teratur, konsumsi makanan bergizi, serta pengendalian penyakit kronis.
Dengan dukungan keluarga dan akses pelayanan kesehatan melalui BPJS Kesehatan Jatim, lansia diharapkan dapat memperoleh pemeriksaan sejak dini ketika mengalami penurunan kemampuan fisik. Pada akhirnya, menjaga kesehatan otot bukan hanya bertujuan mempertahankan bentuk tubuh, melainkan juga menjaga kemandirian, keamanan, dan kualitas hidup hingga usia lanjut.